Keistimewaan Nabi Kita
Muhammad
Keistimewaan Nabi Muhammad
shallallahu ’alaihi wa sallam dapat dibagi menjadi 2:
1. Keistimewaan beliau dari
Nabi lainnya
2. Keistimewaan beliau dari
umatnya
Keistimewaan Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam Dibanding Nabi Lainnya
Pertama: Beliau adalah
kholilullah (kekasih Allah) selain Nabi Ibrahim ’alaihis salam
Rasulullah shallallahu
’alaihi wa sallam bersabda,
إِنِّي أَبْرَأُ إِلَى
اللَّهِ أَنْ يَكُونَ لِي مِنْكُمْ خَلِيلٌ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ اتَّخَذَنِي
خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي
خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا
“Sungguh aku memohon pada
Allah akan memilih aku di antara kalian sebagai kekasih Allah. Maka Allah
Ta’ala memilihku sebagai kekasih-Nya sebagaimana Allah menjadikan Ibrahim juga
kekasih-Nya. Seandainya, aku memilih di antara umatku seorang kekasih, maka aku
akan memilih Abu Bakr sebagai kekasihku.”[1]
Kholil/khullah adalah tingkatan
tertinggi dalam derajat mahabbah (kecintaan) dan inilah yang merupakan
tingkatan paling sempurna. Oleh karena itu, beliau shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, ”Allah Ta’ala memilihku sebagai kekasih-Nya sebagaimana Allah
menjadikan Ibrahim juga kekasih-Nya.” Dan tidak ada dalam hadits yang
mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah habibullah[2]. Maka
perhatikanlah hal ini!![3]
Kedua: Beliau adalah penutup
para Nabi dan risalah (wahyu) yang beliau bawa telah sempurna serta merupakan
risalah yang terakhir
Sebagaimana Allah Ta’ala
berfirman
مَا كَانَ مُحَمَّدٌ
أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ
“Muhammad itu sekali-kali
bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah
Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (QS. Al Ahzab: 40)
[4]Dan tidaklah datang orang
yang mengaku dirinya sebagai Nabi -sesudah beliau- kecuali mereka adalah
dajjal/pendusta. Munculnya orang-orang yang mengaku Nabi ini merupakan
kebenaran dari berita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ
حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبٌ مِنْ ثَلَاثِينَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ
أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ
”Tidak akan terjadi hari
kiamat hingga mucul para dajjal/para pendusta, yang berjumlah sekitar 30-an.
Mereka semua mengaku sebagai utusan Allah (rasulullah).”[5]
Beliau shallallahu ‘alaihi wa
sallam juga bersabda,
وَإِنَّهُ سَيَكُونُ
فِي أُمَّتِي ثَلَاثُونَ كَذَّابُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ
النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي
”Sesungguhnya akan ada pada
umatku 30 orang pendusta yang mengaku Nabi. Padahal akulah penutup para nabi,
tidak ada nabi lagi sesudahku.”[6]
Sabda beliau shallallahu
’alaihi wa sallam ini telah terjadi saat ini. Dan tiadalah yang diucapkannya
itu menurut kemauan hawa nafsunya. Sepeninggal beliau shallallahu ’alaihi wa
sallam atau bahkan di zaman beliau masih hidup telah muncul para dajjal. Di
antaranya adalah Musailamah al-Kazzab. Yang kemudian di zaman Abu Bakr
ash-Shiddiq, dia ditumpas oleh Abu Bakar –radhiyallahu ’anhu-. Begitu juga
istri Musailamah juga mengaku sebagai Nabi.
Dan orang yang mengaku dajjal
sampai hari kiamat masih bermunculan. Seperti di zaman kita saat ini juga
terdapat orang yang mengaku Nabi –yaitu dajjal- seperti Mirza Gulam Ahmad, Lia
Aminudin, dll.
Ketiga: Beliau memiliki
kedudukan yang terpuji (Al Maqom Al Mahmudah)
Yaitu syafa’atul ’uzhma[7],
sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ
رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا
“Mudah-mudahan Tuhan-mu
mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”. (QS. Al Isra’: 79)
Begitu juga dalam hadits
-yang panjang- tentang syafa’at yang telah disepakati keshahihannya:
Sesungguhnya Allah
mengumpulkan orang-orang terdahulu dan orang-orang belakangan di suatu di
suatu bukit. Sebagian orang berkata kepada sebagian yang lain: ”Tidakkah kalian
memperhatikan apa yang kalian berada di dalamnya. Tidakkah kalian melihat pada
apa yang disampaikan pada kalian. Tidakkah kalian melihat siapa yang memberi
syafa’at kalian kepada Rabb kalian.” Kemudian mereka mendatangi Adam, Nuh,
Ibrahim, Musa, ’Isa, hingga Muhammad –sholawat Allah dan salam-Nya bagi mereka
semuanya-. Tiap Nabi tersebut mengatakan:”Pergilah kepada selainku”. Kecuali
Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam mengatakan:”Saya memiliki syafa’at
tersebut.” Kemudian beliau sujud kepada yang mengizinkan syafa’at baginya
(yaitu Allah)
Dengan demikian jelaslah
keutamaan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dari seluruh makhluk. Dan beliau
dikhususkan dengan kedudukan yang demikian[8].
Keempat: Risalah beliau
adalah umum bagi semesta alam dan beliau diutus kepada jin dan manusia
Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ يَا أَيُّهَا
النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا
“Katakanlah: “Hai manusia
sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua.” (QS. Al A’raf: 158)
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ
إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Dan Kami tidak mengutus
kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira
dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.”
(QS. Saba: 28)
تَبَارَكَ الَّذِي
نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا
“Maha suci Allah yang telah
menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi
peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al Furqon: 1)
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ
إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan tiadalah Kami mengutus
kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al Anbiya’:
107)
وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ
نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآَنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا
فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ
“Dan (ingatlah) ketika Kami
hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala
mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk
mendengarkannya).” Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya
(untuk) memberi peringatan.” (QS. Al Ahqaf: 29)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
–rahimahullah- berkata,
”Wajib bagi manusia untuk
mengetahui bahwa Allah ‘azza wa jalla telah mengutus Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam kepada manusia dan jin. Dan wajib bagi mereka untuk beriman
kepada beliau dan beriman dengan wahyu yang beliau bawa dan mentaati beliau.
Mereka (manusia) harus menghalalkan yang Allah dan Rasul-Nya halalkan dan
mengharamkan yang diharamkan oleh keduanya. Mereka harus pula mencintai yang
Allah dan Rasul-Nya cintai dan membenci yang Allah dan Rasul-Nya benci. Setiap
orang yang telah tegak hujjah dengan risalah (wahyu) Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam dari kalangan manusia dan jin kemudian tidak beriman padanya,
maka berhak mendapat adzab Allah Ta’ala, sebagaiman orang kafir yang telah
diutus rasul bagi mereka. Inilah landasan yang telah disepakati oleh sahabat,
tabi’in (yang mengikuti para sahabat dengan baik), para imam kaum muslimin, dan
seluruh kelompok kaum muslimin yang merupakan ahlus sunnah wal jama’ah dan
selain mereka –radhiyallahu ‘anhum ajma’in-.”
Kelima: Beliau diberikan
(diturunkan) Al Qur’an yang merupakan mu’jizat terbesar dan hujjah bagi para
hamba. Allah sendiri yang akan menjaga Al Qur’an ini dan Allah menantang
orang-orang yang meragukan Al Qur’an untuk membuat yang semisalnya.[9]
Allah Ta’ala berfirman pada
para penantang Allah yang ingin membuat Al Qur’an,
قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ
الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآَنِ لَا يَأْتُونَ
بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا
”Katakanlah: “Sesungguhnya
jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya
mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian
mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” (QS. Al Isra’: 88)
Jika tidak mampu membuat
seluruh Al Qur’an, Allah menantang lagi dengan cukup membuat 10 ayat. Allah
berfirman,
أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ
قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ
مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
“Bahkan mereka mengatakan:
“Muhammad telah membuat-buat Al Quran itu”, Katakanlah: “(Kalau demikian), maka
datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan
panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu
memang orang-orang yang benar.” (QS. Hud: 13)
Jika tidak mampu membuat 10
surat, silakan jika mampu membuat satu surat saja!!
وَإِنْ كُنْتُمْ فِي
رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا
شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
”Dan jika kamu (tetap) dalam
keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad),
buatlah[31] satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah
penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (Al
Baqarah: 23)
Keenam: Beliau melakukan
isro’ ke Baitul Maqdis dan mi’roj ke Sidrotul Muntaha
Keistimewaan Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam Dari Umatnya
Di antaranya ialah:
Wajibnya shalat tahajud di
waktu malam[10]
Amalan yang khusus ditetapkan
untuk beliau, seperti:
Diharamkan zakat bagi beliau
dan keluarganya
Dihalalkan bagi beliau puasa
wishol
Dihalalkan bagi beliau
menikah lebih dari empat wanita
Beliau tidak diwarisi
Tidak boleh menikahi istri
beliau setelah beliau wafat[11]
Penulis: Muhammad Abduh
Tuasikal
Artikel http://rumaysho.com
Tulisan Jumadats Tsani 1428
H, tiga tahun silamKeistimewaan Nabi Kita Muhammad
Feb 17, 2010Muhammad Abduh
Tuasikal, MScAqidah3
Keistimewaan Nabi Muhammad
shallallahu ’alaihi wa sallam dapat dibagi menjadi 2:
1. Keistimewaan beliau dari
Nabi lainnya
2. Keistimewaan beliau dari
umatnya
Keistimewaan Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam Dibanding Nabi Lainnya
Pertama: Beliau adalah
kholilullah (kekasih Allah) selain Nabi Ibrahim ’alaihis salam
Rasulullah shallallahu
’alaihi wa sallam bersabda,
إِنِّي أَبْرَأُ إِلَى
اللَّهِ أَنْ يَكُونَ لِي مِنْكُمْ خَلِيلٌ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ اتَّخَذَنِي
خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي
خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا
“Sungguh aku memohon pada
Allah akan memilih aku di antara kalian sebagai kekasih Allah. Maka Allah
Ta’ala memilihku sebagai kekasih-Nya sebagaimana Allah menjadikan Ibrahim juga
kekasih-Nya. Seandainya, aku memilih di antara umatku seorang kekasih, maka aku
akan memilih Abu Bakr sebagai kekasihku.”[1]
Kholil/khullah adalah
tingkatan tertinggi dalam derajat mahabbah (kecintaan) dan inilah yang
merupakan tingkatan paling sempurna. Oleh karena itu, beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, ”Allah Ta’ala memilihku sebagai kekasih-Nya
sebagaimana Allah menjadikan Ibrahim juga kekasih-Nya.” Dan tidak ada dalam
hadits yang mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah
habibullah[2]. Maka perhatikanlah hal ini!![3]
Kedua: Beliau adalah penutup
para Nabi dan risalah (wahyu) yang beliau bawa telah sempurna serta merupakan
risalah yang terakhir
Sebagaimana Allah Ta’ala
berfirman
مَا كَانَ مُحَمَّدٌ
أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ
“Muhammad itu sekali-kali
bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah
Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (QS. Al Ahzab: 40)
[4]Dan tidaklah datang orang
yang mengaku dirinya sebagai Nabi -sesudah beliau- kecuali mereka adalah
dajjal/pendusta. Munculnya orang-orang yang mengaku Nabi ini merupakan
kebenaran dari berita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ
حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبٌ مِنْ ثَلَاثِينَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ
أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ
”Tidak akan terjadi hari
kiamat hingga mucul para dajjal/para pendusta, yang berjumlah sekitar 30-an.
Mereka semua mengaku sebagai utusan Allah (rasulullah).”[5]
Beliau shallallahu ‘alaihi wa
sallam juga bersabda,
وَإِنَّهُ سَيَكُونُ
فِي أُمَّتِي ثَلَاثُونَ كَذَّابُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ
النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي
”Sesungguhnya akan ada pada
umatku 30 orang pendusta yang mengaku Nabi. Padahal akulah penutup para nabi,
tidak ada nabi lagi sesudahku.”[6]
Sabda beliau shallallahu
’alaihi wa sallam ini telah terjadi saat ini. Dan tiadalah yang diucapkannya
itu menurut kemauan hawa nafsunya. Sepeninggal beliau shallallahu ’alaihi wa
sallam atau bahkan di zaman beliau masih hidup telah muncul para dajjal. Di
antaranya adalah Musailamah al-Kazzab. Yang kemudian di zaman Abu Bakr
ash-Shiddiq, dia ditumpas oleh Abu Bakar –radhiyallahu ’anhu-. Begitu juga
istri Musailamah juga mengaku sebagai Nabi.
Dan orang yang mengaku dajjal
sampai hari kiamat masih bermunculan. Seperti di zaman kita saat ini juga
terdapat orang yang mengaku Nabi –yaitu dajjal- seperti Mirza Gulam Ahmad, Lia
Aminudin, dll.
Ketiga: Beliau memiliki
kedudukan yang terpuji (Al Maqom Al Mahmudah)
Yaitu syafa’atul ’uzhma[7],
sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ
رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا
“Mudah-mudahan Tuhan-mu
mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”. (QS. Al Isra’: 79)
Begitu juga dalam hadits
-yang panjang- tentang syafa’at yang telah disepakati keshahihannya:
Sesungguhnya Allah
mengumpulkan orang-orang terdahulu dan orang-orang belakangan di suatu di
suatu bukit. Sebagian orang berkata kepada sebagian yang lain: ”Tidakkah kalian
memperhatikan apa yang kalian berada di dalamnya. Tidakkah kalian melihat pada
apa yang disampaikan pada kalian. Tidakkah kalian melihat siapa yang memberi
syafa’at kalian kepada Rabb kalian.” Kemudian mereka mendatangi Adam, Nuh, Ibrahim,
Musa, ’Isa, hingga Muhammad –sholawat Allah dan salam-Nya bagi mereka
semuanya-. Tiap Nabi tersebut mengatakan:”Pergilah kepada selainku”. Kecuali
Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam mengatakan:”Saya memiliki syafa’at
tersebut.” Kemudian beliau sujud kepada yang mengizinkan syafa’at baginya
(yaitu Allah)
Dengan demikian jelaslah
keutamaan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dari seluruh makhluk. Dan beliau
dikhususkan dengan kedudukan yang demikian[8].
Keempat: Risalah beliau
adalah umum bagi semesta alam dan beliau diutus kepada jin dan manusia
Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ يَا أَيُّهَا
النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا
“Katakanlah: “Hai manusia
sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua.” (QS. Al A’raf: 158)
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ
إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Dan Kami tidak mengutus
kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira
dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.”
(QS. Saba: 28)
تَبَارَكَ الَّذِي
نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا
“Maha suci Allah yang telah
menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi
peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al Furqon: 1)
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ
إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan tiadalah Kami mengutus
kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al Anbiya’:
107)
وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ
نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآَنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا
فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ
“Dan (ingatlah) ketika Kami
hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala
mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk
mendengarkannya).” Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya
(untuk) memberi peringatan.” (QS. Al Ahqaf: 29)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
–rahimahullah- berkata,
”Wajib bagi manusia untuk
mengetahui bahwa Allah ‘azza wa jalla telah mengutus Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam kepada manusia dan jin. Dan wajib bagi mereka untuk beriman
kepada beliau dan beriman dengan wahyu yang beliau bawa dan mentaati beliau.
Mereka (manusia) harus menghalalkan yang Allah dan Rasul-Nya halalkan dan
mengharamkan yang diharamkan oleh keduanya. Mereka harus pula mencintai yang
Allah dan Rasul-Nya cintai dan membenci yang Allah dan Rasul-Nya benci. Setiap
orang yang telah tegak hujjah dengan risalah (wahyu) Muhammad shallallahu ‘alaihi
wa sallam dari kalangan manusia dan jin kemudian tidak beriman padanya, maka
berhak mendapat adzab Allah Ta’ala, sebagaiman orang kafir yang telah diutus
rasul bagi mereka. Inilah landasan yang telah disepakati oleh sahabat, tabi’in
(yang mengikuti para sahabat dengan baik), para imam kaum muslimin, dan seluruh
kelompok kaum muslimin yang merupakan ahlus sunnah wal jama’ah dan selain
mereka –radhiyallahu ‘anhum ajma’in-.”
Kelima: Beliau diberikan
(diturunkan) Al Qur’an yang merupakan mu’jizat terbesar dan hujjah bagi para
hamba. Allah sendiri yang akan menjaga Al Qur’an ini dan Allah menantang
orang-orang yang meragukan Al Qur’an untuk membuat yang semisalnya.[9]
Allah Ta’ala berfirman pada
para penantang Allah yang ingin membuat Al Qur’an,
قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ
عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآَنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ
بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا
”Katakanlah: “Sesungguhnya
jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya
mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian
mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” (QS. Al Isra’: 88)
Jika tidak mampu membuat
seluruh Al Qur’an, Allah menantang lagi dengan cukup membuat 10 ayat. Allah
berfirman,
أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ
قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ
مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
“Bahkan mereka mengatakan:
“Muhammad telah membuat-buat Al Quran itu”, Katakanlah: “(Kalau demikian), maka
datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan
panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu
memang orang-orang yang benar.” (QS. Hud: 13)
Jika tidak mampu membuat 10
surat, silakan jika mampu membuat satu surat saja!!
وَإِنْ كُنْتُمْ فِي
رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا
شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
”Dan jika kamu (tetap) dalam
keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad),
buatlah[31] satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah
penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (Al
Baqarah: 23)
Keenam: Beliau melakukan
isro’ ke Baitul Maqdis dan mi’roj ke Sidrotul Muntaha
Keistimewaan Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam Dari Umatnya
Di antaranya ialah:
Wajibnya shalat tahajud di
waktu malam[10]
Amalan yang khusus ditetapkan
untuk beliau, seperti:
Diharamkan zakat bagi beliau
dan keluarganya
Dihalalkan bagi beliau puasa
wishol
Dihalalkan bagi beliau
menikah lebih dari empat wanita
Beliau tidak diwarisi
Tidak boleh menikahi istri
beliau setelah beliau wafat[11]
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel http://rumaysho.com
Tulisan Jumadats Tsani 1428
H,